sekolahmedan.com

Loading

cerita alkitab sekolah minggu

cerita alkitab sekolah minggu

Abraham dan Sarah: Janji Ditepati, Iman Diuji

Kisah Abraham dan Sarah, yang menjadi landasan kurikulum Perjanjian Lama dan Sekolah Minggu, adalah narasi yang kuat tentang iman, ketaatan, dan campur tangan Tuhan yang ajaib. Kisah ini, yang terutama ditemukan dalam Kitab Kejadian, menyediakan materi yang kaya untuk mengajar anak-anak tentang memercayai janji-janji Allah, bahkan ketika janji-janji itu tampak mustahil.

Abraham, aslinya bernama Abram, tinggal di Ur, sebuah kota di Mesopotamia. Dia dan istrinya, Sarai (kemudian Sarah), tidak memiliki anak dan sudah lanjut usia. Pada masa itu, memiliki anak, khususnya anak laki-laki, dianggap sebagai anugerah dan tanda kemurahan Tuhan. Ketidakhadiran anak sering kali dipandang sebagai sumber rasa malu dan penyesalan.

Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan memberikan janji yang mendalam: “Aku akan menjadikan kamu bangsa yang besar dan Aku akan memberkati kamu; Aku akan membuat namamu besar dan kamu akan menjadi berkat. Aku akan memberkati mereka yang memberkati kamu, dan siapa yang mengutuk kamu akan aku kutuk; dan semua bangsa di bumi akan diberkati melalui kamu” (Kejadian 12:2-3). Perjanjian ini, Perjanjian Abraham, merupakan landasan rencana Allah bagi umat manusia.

Janji itu sungguh luar biasa. Abram berumur 75 tahun dan Sarai mandul. Bagaimana mungkin mereka bisa mempunyai anak, apalagi menjadi bapak bangsa yang besar? Namun Abram, karena iman, percaya kepada Tuhan. Dia mengemasi barang-barangnya, meninggalkan kampung halamannya, dan berangkat ke Kanaan, negeri yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada keturunannya.

Tindakan ketaatan ini penting dalam pelajaran Sekolah Minggu. Ini menyoroti pentingnya memercayai Tuhan, bahkan ketika kita tidak memahami rencana-Nya. Anak-anak dapat diajari bahwa iman bukanlah keyakinan buta, melainkan kepercayaan yang penuh keyakinan terhadap karakter Allah dan kemampuan-Nya untuk menepati janji-Nya.

Selama berada di Kanaan, Abram dan Sarai menghadapi banyak tantangan, termasuk kelaparan dan konflik dengan suku lain. Pada suatu kesempatan, Abram, karena takut akan nyawanya, meminta Sarai untuk berpura-pura menjadi saudara perempuannya, bukan istrinya, untuk melindunginya agar tidak dibunuh oleh orang-orang yang mungkin menginginkan kecantikannya. Peristiwa ini, yang kemudian diulangi oleh Abimelekh, menunjukkan kesalahan manusiawi Abram dan ketidaksempurnaan yang ada bahkan pada orang-orang pilihan Tuhan. Penting untuk menyikapi momen-momen ini dengan jujur ​​di Sekolah Minggu, dengan menekankan bahwa bahkan pahlawan iman pun bisa melakukan kesalahan, namun kasih karunia dan kesetiaan Tuhan tetap konstan.

Seiring berlalunya waktu, Sarai tetap tidak memiliki anak. Dia semakin tidak sabar dan menyarankan agar Abram mempunyai anak dari hamba perempuannya, Hagar. Hal ini merupakan hal yang lumrah pada masa itu, dimana istri yang mandul dapat memberikan selir kepada suaminya untuk melahirkan anak, yang kemudian dianggap sebagai keturunan istri.

Abram setuju, dan Hagar mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, Ismael. Meskipun Ismael dikasihi oleh Abram, dia bukanlah anak perjanjian. Hal ini menyoroti bahayanya mencoba mengambil tindakan sendiri dan berupaya memenuhi janji-janji Allah melalui usaha kita sendiri, dibandingkan menantikan Dia dengan sabar. Ini adalah pelajaran berharga bagi anak-anak, menekankan pentingnya berdoa dan percaya pada waktu Tuhan.

Tiga belas tahun setelah kelahiran Ismail, Tuhan menegaskan kembali perjanjian-Nya dengan Abram. Dia mengubah nama Abram menjadi Abraham, yang berarti “bapak banyak bangsa,” dan nama Sarai menjadi Sarah, yang berarti “putri.” Dia menyatakan bahwa Sarah akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan anak laki-laki ini, Ishak, akan menjadi ahli waris perjanjian.

Abraham, kini berusia 99 tahun, tertawa membayangkan Sarah, yang berusia 90 tahun, mengandung seorang anak. Sarah, yang mendengar percakapan itu, juga tertawa. Tawa ini, meskipun tampak tidak sopan, kemungkinan besar berasal dari ketidakpercayaan dan ketidakmungkinan situasi tersebut.

Namun Tuhan tetap teguh pada janji-Nya. “Apakah ada sesuatu yang terlalu sulit bagi Tuhan?” Dia bertanya (Kejadian 18:14). Pertanyaan ini merupakan pengingat yang kuat bagi anak-anak bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mampu melakukan hal yang mustahil.

Sesuai dengan firman-Nya, Sarah mengandung dan melahirkan Ishak. Nama Ishak berarti “dia tertawa”, sebuah pengingat akan ketidakpercayaan awal yang menyelimuti kelahirannya. Kelahiran Ishak adalah sebuah mukjizat, sebuah bukti kuasa dan kesetiaan Tuhan.

Kisah Abraham dan Sarah tidak berakhir dengan kelahiran Ishak. Tuhan kemudian menguji iman Abraham dengan cara yang mendalam dan meresahkan. Dia memerintahkan Abraham untuk mengorbankan Ishak, putra satu-satunya, sebagai korban bakaran.

Perintah ini mungkin merupakan aspek cerita yang paling menantang untuk dijelaskan kepada anak-anak. Penting untuk ditekankan bahwa Allah tidak pernah bermaksud agar Abraham benar-benar membunuh Ishak. Ujiannya adalah tentang kesediaan Abraham untuk menaati Tuhan, meski itu berarti mengorbankan hal yang paling berharga baginya.

Abraham menaati Tuhan tanpa ragu-ragu. Dia membawa Ishak ke Gunung Moria, membangun mezbah, dan bersiap untuk mengorbankan putranya. Saat dia hendak memukul Ishak, malaikat Tuhan berseru dari surga, menghentikannya.

Malaikat itu berkata, “Jangan menyentuh anak itu atau melakukan apa pun padanya. Sebab sekarang aku tahu, bahwa kamu takut akan Allah, sebab kamu tidak menahan anakmu, anakmu yang tunggal” (Kejadian 22:12).

Tuhan menyediakan seekor domba jantan yang ditangkap di semak-semak untuk dikorbankan menggantikan Ishak. Peristiwa ini seringkali dianggap sebagai pertanda pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, dimana Tuhan mengorbankan Anak Tunggal-Nya demi keselamatan umat manusia.

Kisah Abraham dan Sarah adalah permadani yang kaya akan iman, ketaatan, keraguan, dan kesetiaan Tuhan yang tak tergoyahkan. Ini mengajarkan anak-anak tentang pentingnya memercayai janji-janji Allah, bahkan ketika janji-janji itu tampak mustahil, dan menaati perintah-perintah-Nya, bahkan ketika janji-janji itu sulit untuk dipahami. Hal ini juga menyoroti kekuatan doa dan pentingnya menantikan waktu Tuhan. Dengan menjelaskan secara cermat berbagai aspek kisah ini, para guru Sekolah Minggu dapat memberikan pelajaran berharga yang akan membentuk pemahaman anak-anak tentang Tuhan dan hubungan mereka dengan-Nya. Narasi ini memberikan ilustrasi yang kuat mengenai perjanjian Allah dan rencana-Nya untuk memberkati semua bangsa melalui keturunan Abraham.